PENGARUH MEDIA ONLINE TERHADAP REFERENSI SISWA SMA MUSLIM PADA PILKADA DKI 2017
Red Velvet
Technopreneurship
Calvin Anugerah Wijaya (1500310022)
Cecilia Tasya (1500310028)
Chelsy Liventia (1500310003)
Felita Tania (1500310026)
John Adam (1500310012)
Sukma Kesumo Widjaja (1500310029)
Nilai Presentasi : 84.82
Tangerang
2016
KATA PENGANTAR
Pertama-tama kami ingin menghanturkan rasa terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena atas rahmat yang diberikan-Nya, kami dapat menyelesaikan laporan “Pengaruh Media Online Terhadap Referensi Pemilih Pemula Muslim Pada Pilkada DKI 2017”. Laporan ini kami buat untuk memenuhi tugas ujian akhir mata kuliah Pancasila dan Kewarganegaraan.
Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada pihak-pihak yang telah membantu kami menyelesaikan laporan ini:
- Bapak Aryaning Arya Kresna, S.Fil. M.Hum selaku dosen Pancasila dan Kewarganegaraan Surya University,
- Anggun selaku narasumber,
- Ayniah selaku narasumber,
- Gilang Tjahjadi selaku narasumber,
- Giri Narendra selaku narasumber,
- Reza Atallah selaku narasumber,
- Rizka Indiriyanti selaku narasumber, serta
- pihak-pihak lain yang telah membantu.
Tanpa bantuan mereka, kami tidak dapat menyelesaikan laporan ini dengan baik.
Kami menyadari bahwa laporan ini belum sempurna. Oleh karena itu, kami berharap adanya kritik dan saran dari para pembaca. Semoga laporan ini dapat berguna bagi semua yang membacanya.
Tangerang, 3 Maret 2016
Penyusun
DAFTAR ISI
Kata Pengantar...................................................................................................... i
Daftar Isi............................................................................................................... ii
Bab I Pendahuluan................................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang................................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah........................................................................................... 2
1.3 Tujuan Penelitian............................................................................................. 2
1.4 Metode Penelitian........................................................................................... 2
Bab II Isi............................................................................................................... 3
2.1 Data Profil Narasumber................................................................................... 3
2.2 Analisis Hasil Wawancara............................................................................... 4
Bab III Penutup.................................................................................................... 13
3.1 Kesimpulan...................................................................................................... 13
3.2 Saran................................................................................................................ 13
Daftar Pustaka....................................................................................................... 14
Lampiran............................................................................................................... 15
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa ini, informasi telah menjadi kebutuhan pokok bagi kehidupan masyarakat. Berbagai macam bentuk informasi dapat diperoleh melalui berbagai media, seperti media cetak, media elektronik, media online, dan lain sebagainya. Menurut Romli (2012) menyatakan bahwa media online (online media) adalah media massa yang tersaji secara online di situs web (website).[1] Media online memudahkan masyarakat dalam memperoleh informasi, seperti informasi ekonomi, sosial, bahkan politik.
Namun, informasi yang diperoleh masyarakat melalui media online dapat mempengaruhi pandangan mereka, baik secara positif maupun negatif. Dalam aspek politik, media online dapat menjadi sebuah alat propaganda bagi pihak tertentu untuk menjatuhkan lawan politiknya.[2] Salah satu contohnya adalah terdapat berita yang menyerang dan menjelek-jelekkan Gubernur Ahok, seperti dari suatu website yang memuat berita yang menyatakan Ahok hanya memecat orang - orang berhijab saja.[3]
Menyangkut Pilkada DKI Jakarta 2017, banyak beredar berita negatif tentang Ahok yang menyangkut SARA di media online. Hal tersebut dapat mempengaruhi masyarakat terhadap pilihan mereka dalam memilih gubernur pada Pilkada 2017, terutama bagi siswa SMA yang muslim. Maka dari itu, tim peneliti melakukan penelitian tentang pengaruh media online terhadap pandangan siswa SMA muslim pada Pilkada DKI 2017.
1.2 Rumusan Masalah
Masalah yang dapat dirumuskan dari latar belakang diatas adalah “Bagaimana pengaruh media online seperti berita pada website terhadap pandangan siswa SMA muslim kepada Ahok?”
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Mengetahui pengaruh media online seperti berita-berita yang ada di website terhadap pandangan siswa SMA muslim kepada Ahok.
1.3.2 Mengetahui pandangan siswa SMA muslim terhadap pemerintahan Ahok dan sebelum Ahok.
1.3.3 Mengetahui keterbukaan siswa SMA muslim mengenai Ahok terkait SARA.
1.3.4 Mengetahui pilihan siswa SMA muslim terkait pemimpin DKI Jakarta.
1.4 Metodologi Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Metode ini digunakan dengan tujuan memperoleh informasi yang lebih mendalam dari para narasumber. Wawancara dilakukan kepada enam orang narasumber yaitu siswa-siswi SMA dari beberapa daerah di Jakarta yakni Jakarta Barat (1 siswa dan 1 siswi), Jakarta Utara (1 siswa dan 1 siswi), dan Jakarta Selatan (1 siswa dan 1 siswi). Para narasumber juga berasal dari sekolah yang berbeda yakni, sekolah swasta non-muslim, sekolah negeri, dan sekolah islam swasta. Latar belakang sekolah yang berbeda-beda ini membuat pandangan siswa yang diteliti menjadi beragam.
BAB II
ISI
2.1 Data Profil Narasumber
No
|
Nama
|
Asal SMA
|
Daerah Sekolah
|
Umur
|
Profil Singkat
|
1.
|
Anggun
|
Bunda Hati Kudus
|
Jakarta Barat
|
16
|
Mengikuti kegiatan choir di sekolah dan memiliki teman untuk rutin jalan-jalan.
|
2.
|
Gilang Tjahjadi
|
St. Kristoforus II
|
Jakarta Barat
|
17
|
Memiliki kegiatan futsal dan suka nongkrong dengan teman-temannya.
|
3.
|
Rizka Indriyanti
|
Muhammadiyah 3
|
Jakarta Selatan
|
17
|
Menyukai musik dan aktif dalam kegiatan OSIS.
|
4.
|
Giri Narendra
|
Muhammadiyah 3
|
Jakarta Selatan
|
17
|
Suka bermain game dan menyukai group discussion.
|
5.
|
Ayniah
|
SMAN 13
|
Jakarta Utara
|
16
|
Sering bermain gadget.
|
6.
|
Reza Atallah
|
SMAN 13
|
Jakarta Utara
|
15
|
Menyukai futsal.
|
Berikut merupakan tabel data mengenai profil masing-masing narasumber yang telah diwawancarai:
2.2 Analisis Hasil Wawancara
2.2.1 Pertanyaan 1: Apakah Anda sering mengikuti berita (terutama berita tentang kota Jakarta)?
No.
|
Nama
|
Jawaban
|
1.
|
Anggun (Jakbar)
|
Tidak pernah.
|
2.
|
Gilang (Jakbar)
|
Jarang.
|
3.
|
Rizka (Jaksel)
|
Jarang.
|
4.
|
Giri (Jaksel)
|
Sering.
|
5.
|
Ayniah (Jakut)
|
Tidak pernah.
|
6.
|
Reza (Jakut)
|
Jarang.
|
Pertanyaan ini diajukan untuk mengetahui apakah narasumber mengerti dan mengikuti perkembangan berita tentang Jakarta. Hasil wawancara dari pertanyaan ini menunjukkan bahwa 3 dari 6 narasumber jarang membaca ataupun mengikuti perkembangan berita. Dan, 2 dari 6 narasumber menyatakan bahwa mereka tidak pernah membaca dan mengikuti perkembangan berita. Sedangkan, hanya ada 1 dari 6 narasumber yang menyatakan sering mengikuti perkembangan berita DKI Jakarta.
2.2.2 Pertanyaan 2: Apakah Anda suka membicarakan tentang keadaan Jakarta?
No.
|
Nama
|
Jawaban
|
1.
|
Anggun (Jakbar)
|
Jarang membicarakan Jakarta.
|
2.
|
Gilang (Jakbar)
|
Sekilas membicarakan dengan teman-teman.
|
3.
|
Rizka (Jaksel)
|
Biasanya membicarakan tentang banjir, kemacetan dan penggusuran Kalijodo.
|
4.
|
Giri (Jaksel)
|
Sering membicarakan banyak hal.
|
5.
|
Ayniah (Jakut)
|
Tidak pernah.
|
6.
|
Reza (Jakut)
|
Jarang membicarakan Jakarta.
|
Pertanyaan ini berkaitan dengan pertanyaan pertama untuk mengetahui apakah narasumber berada pada lingkungan yang peka dan peduli terhadap perkembangan di DKI Jakarta. Total 4 dari 6 narasumber menyatakan bahwa mereka jarang membicarakan keadaan di DKI Jakarta. Sedangkan, hanya 1 narasumber yang menyatakan bahwa mereka tidak pernah membicarakan keadaan DKI Jakarta dan 1 narasumber lainnya menyatakan bahwa mereka sering membicarakan tentang keadaan DKI Jakarta. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian dari mereka masih berada pada lingkungan yang peduli terhadap perkembangan DKI Jakarta.
2.2.3 Pertanyaan 3: Bagaimana perubahan Jakarta pada saat pemerintahan Ahok dan sebelumnya?
No.
|
Nama
|
Jawaban
|
1.
|
Anggun (Jakbar)
|
Tidak banjir, lebih teratur, lebih nyaman.
|
2.
|
Gilang (Jakbar)
|
Tidak ada yang berbeda.
|
3.
|
Rizka (Jaksel)
|
Perubahan banyak seperti penggusuran Kalijodo dan hari Sabtu sekolah libur.
|
4.
|
Giri (Jaksel)
|
Kemacetan Jakarta dan banjir Jakarta masih sama, tetapi transportasi menjadi lebih baik.
|
5.
|
Ayniah (Jakut)
|
Tidak tahu.
|
6.
|
Reza (Jakut)
|
Transportasi menjadi lebih baik seperti MRT, penghijauan dan taman kota menjadi lebih banyak.
|
Pertanyaan ke masih berkaitan dengan pertanyaan 1 dan 2, pertanyaan ini diajukan untuk mengetahui pandangan siswa yang membandingkan pemerintahan Ahok dan sebelumnya.
Hasil wawancara menunjukkan bahwa para narasumber sadar akan perubahan di DKI Jakarta. Perubahan yang mereka rasakan bervariasi seperti Jakarta lebih teratur, serta transportasi umum yang lebih baik setelah pemerintahan Ahok. Namun, 2 dari 6 narasumber menyatakan bahwa mereka tidak merasakan perubahan dari DKI Jakarta, bahkan tidak mengetahui perubahan DKI Jakarta.
2.2.4 Pertanyaan 4: Bagaimana pemimpin yang ideal menurut Anda?
No.
|
Nama
|
Jawaban
|
1.
|
Anggun (Jakbar)
|
Adil, berwibawa dan tegas.
|
2.
|
Gilang (Jakbar)
|
Tegas seperti Ahok, namun tetap harus menjaga perkataan.
|
3.
|
Rizka (Jaksel)
|
Pemimpin yang dapat mengapresiasi suara rakyat dan merealisasikannya.
|
4.
|
Giri (Jaksel)
|
Tidak hanya banyak janji tapi harus merealisasikan janji tersebut.
|
5.
|
Ayniah (Jakut)
|
Harus dapat memimpin dengan baik.
|
6.
|
Reza (Jakut)
|
Peduli terhadap rakyat, tidak takut pada apapun, pemimpin yang lebih banyak aksi daripada omongan.
|
Melalui pertanyaan ini, informasi yang ingin didapatkan dari para narasumber adalah pandangan mereka mengenai ciri pemimpin ideal untuk DKI Jakarta serta harapan mereka terhadap pemimpin Jakarta untuk Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 mendatang. Hasil dari wawancara menunjukkan bahwa para narasumber menginginkan pemimpin yang adil, tegas, dan dapat merealisasikan janji-janji mereka kepada rakyat. Salah seorang narasumber (Gilang) juga menyatakan bahwa Ahok merupakan contoh seorang pemimpin yang ideal.
Analisa terhadap jawaban-jawaban yang mereka lontarkan menunjukkan bahwa mereka tidak memandang SARA dalam memilih seorang pemimpin. Dan juga tidak ada narasumber yang menyebutkan patokan agama sebagai salah satu pertimbangan dalam memilih seorang pemimpin.
2.2.5 Pertanyaan 5: Bagaimana pendapat Anda tentang Ridwan Kamil dan Risma yang ingin dicalonkan sebagai Gubernur Jakarta?
No.
|
Nama
|
Jawaban
|
1.
|
Anggun (Jakbar)
|
Tidak setuju, daerah lain selain Jakarta juga membutuhkan gubernur yang baik (perlu adanya pemerataan).
|
2.
|
Gilang (Jakbar)
|
Belum kenal dengan mereka, tetapi mereka juga dapat bersaing.
|
3.
|
Rizka (Jaksel)
|
Setuju dan tidak setuju karena mereka baru memimpin di kota kecil, belum tentu dapat memimpin kota besar seperti Jakarta.
|
4.
|
Giri (Jaksel)
|
Ini mungkin kepentingan partai yang hanya memilih pemimpin yang baik di mata rakyat. Jadi mereka mungkin saja dapat dicalonkan.
|
5.
|
Ayniah (Jakut)
|
Kurang tahu.
|
6.
|
Reza (Jakut)
|
Bagus dan baik, karena kinerja Ridwan di Bandung sudah terlihat.
|
Dalam pertanyaan ini, Ridwan Kamil-Risma dibandingkan dengan Ahok untuk mengetahui apakah mereka memandang agama (SARA) dalam memilih pemimpin. Meskipun ketiga nama tersebut telah terbukti memiliki kemampuan memimpin yang baik, tetapi ada perbedaan dalam SARA di antara Ridwan Kamil-Risma dan Ahok. Ridwan Kamil dan Risma memeluk agama Islam sedangkan Ahok merupakan seorang kristian.
Hasil dari wawancara menunjukkan bahwa 3 narasumber kurang setuju apabila Ridwan Kamil dan Risma dicalonkan menjadi Gubernur DKI Jakarta. Mereka berpendapat bahwa perlu adanya pemerataan terhadap pemimpin di berbagai daerah. Jika semua pemimpin yang baik hanya memimpin Jakarta, maka kota lain akan tertinggal. Mereka juga berpendapat bahwa pemimpin seperti Ridwan Kamil belum tentu dapat memimpin kota besar seperti Jakarta sebaik saat beliau memimpin kota Bandung. Hal itu dikarenakan kota Bandung tidak sebesar dan tidak memiliki penduduk yang beragam seperti kota Jakarta.
Namun, 2 dari 6 narasumber menyatakan mereka setuju jika Ridwan Kamil dan Risma dicalonkan menjadi Gubernur DKI Jakarta 2017 dengan alasan kinerja Ridwan Kamil di Bandung sudah terlihat dan dirasakan oleh masyarakat Bandung.
2.2.6 Pertanyaan 6: Siapa yang akan Anda pilih pada Pilkada DKI Jakarta 2017?
No.
|
Nama
|
Jawaban
|
1.
|
Anggun (Jakbar)
|
Ahok.
|
2.
|
Gilang (Jakbar)
|
Ahok.
|
3.
|
Rizka (Jaksel)
|
Ahok.
|
4.
|
Giri (Jaksel)
|
Belum tahu.
|
5.
|
Ayniah (Jakut)
|
Belum tahu.
|
6.
|
Reza (Jakut)
|
Ridwan Kamil.
|
Pertanyaan ini diajukan untuk mengetahui pilihan narasumber mengenai Gubernur DKI Jakarta 2017 yang akan mereka pilih pada Pilkada DKI Jakarta 2017. Pertanyaan juga dibuat untuk mengetahui apakah Ahok memiliki kesempatan memenangkan suara dalam Pilkada DKI Jakarta 2017.
Hasil dari wawancara dengan 6 narasumber menunjukkan bahwa setengah dari narasumber (3 orang) menyatakan bahwa mereka memiliki kemungkinan memilih Ahok pada Pilkada DKI Jakarta 2017. Namun, 1 di antara 6 narasumber (Reza) memilih Ridwan Kamil sebagai pemimpin Jakarta selanjutnya. Sedangkan 2 narasumber lainnya belum memastikan siapa yang akan mereka pilih nantinya.
2.2.7 Pertanyaan 7: Apakah alasan Anda dalam memilih mereka?
No.
|
Nama
|
Pilihan
|
Jawaban
|
1.
|
Anggun (Jakbar)
|
Ahok
|
Tidak tahu siapa lagi yang harus dipilih.
|
2.
|
Gilang (Jakbar)
|
Ahok
|
Ahok memerintah dengan baik.
|
3.
|
Rizka (Jaksel)
|
Ahok
|
Tergantung pendapat masing-masing orang.
|
4.
|
Giri (Jaksel)
|
Tidak tahu
|
Partai hanya mengajukan nama dengan cara pendekatan yang sama. Tapi belum jelas siapa yang dikampanyekan.
|
5.
|
Ayniah (Jakut)
|
Tidak tahu
|
Belum tahu.
|
6.
|
Reza (Jakut)
|
Ridwan Kamil
|
Ridwan akan lebih diterima oleh masyarakat karena Ahok banyak bermasalah dengan warga Muslim.
|
Pertanyaan ini membahas alasan mereka memilih nama-nama calon pemimpin pilihan mereka untuk Pilkada DKI Jakarta 2017 yang telah disebutkan pada pertanyaan 6. Hasil wawancara menunjukkan bahwa 3 narasumber memilih Ahok karena Ahok telah terbukti memimpin dan memerintah dengan baik. Sementara 1 narasumber (Reza) memilih Ridwan Kamil pada pertanyaan sebelumnya dengan alasan untuk menghindari konflik di antara masyarakat. Reza berpendapat bahwa Ridwan Kamil yang muslim akan lebih diterima oleh masyarakat dibandingkan Ahok yang kristian. Meski begitu, Reza tetap berpandangan netral terhadap apapun agama yang dipeluk pemimpin Jakarta nanti. Sementara itu, 2 narasumber lain masih belum mengetahui siapa yang akan mereka pilih.
2.2.8 Pertanyaan 8: Bagaimana pendapat Anda setelah membaca berita 1[4]?
No.
|
Nama
|
Jawaban
|
1.
|
Anggun (Jakbar)
|
Beritanya agak “lebay”, merusak citra Ahok.
|
2.
|
Gilang (Jakbar)
|
Beritanya hanya salah paham dengan korban, hanya berbeda argumen saja.
|
3.
|
Rizka (Jaksel)
|
Pers sering membuat berita dengan isi berlebihan supaya booming, namun sebenarnya tidak seperti itu.
|
4.
|
Giri (Jaksel)
|
Harus ada bukti yang kuat sedangkan berita tersebut tidak ada bukti yang kuat.
|
5.
|
Ayniah (Jakut)
|
Tidak berkomentar.
|
6.
|
Reza (Jakut)
|
Berita tidak dapat dipercaya karena tidak spesifik.
|
Berita pertama disuguhkan kepada setiap narasumber. Isi berita ini menceritakan bagaimana Ahok telah dianggap mendiskriminasi 3 wanita yang berhijab. Diceritakan bahwa Ahok memecat, menuduh serta memarahi mereka. Setelah membaca berita ini, terlihat bagaimana reaksi dan pendapat mereka terhadap berita tersebut berkaitan dengan SARA. Dari jawaban narasumber juga akan terlihat apakah narasumber memerhatikan sumber berita ketika membaca berita.
Hasil dari wawancara menunjukkan bahwa kebanyakan dari narasumber tidak mempercayai berita tersebut. Para narasumber berpendapat bahwa berita tersebut berlebihan. Ada juga narasumber yang beranggapan bahwa berita tersebut merupakan suatu kesalahpahaman dengan korban. Namun, 1 narasumber yaitu Ayniah tidak berkomentar apapun terhadap berita tersebut. Dari hasil wawancara, dapat terlihat bahwa siswa SMA tidak langsung mencerna suatu berita bulat-bulat. Mereka masih menyeleksi berita yang mereka baca dan mempertanyakan tentang kebenaran berita tersebut. Mereka juga tidak membela wanita berhijab yang diberitakan telah terdiskriminasi oleh Ahok. Hal ini menunjukkan bahwa pluralisme telah berkembang di antara siswa SMA muslim di Jakarta.
2.2.9 Pertanyaan 9: Bagaimana pendapat Anda setelah membaca berita 2[5]?
No.
|
Nama
|
Jawaban
|
1.
|
Anggun (Jakbar)
|
Fanatik Islam memang sensitif terhadap kebijakan Ahok.
|
2.
|
Gilang (Jakbar)
|
Perkataan Ahok terlihat plin plan.
|
3.
|
Rizka (Jaksel)
|
Kita perlu selektif ketika baca media massa supaya tahu mana yang benar dan tidak.
|
4.
|
Giri (Jaksel)
|
Ada sedikit provokasi sehingga masyarakat bisa menjadi panas. Beritanya juga kurang jelas, kurang bukti. Acaranya juga tidak tahu mengganggu masyarakat atau tidak.
|
5.
|
Ayniah (Jakut)
|
Tidak berkomentar.
|
6.
|
Reza (Jakut)
|
Hal tersebut agak tidak logis. Ia mempertanyakan mengapa tidak disosialisasikan sebelumnya mengenai peruntukan Monas.
|
Berita kedua disuguhkan kepada setiap narasumber. Isi berita ini adalah mengenai Ahok melarang untuk membuka area Monas untuk acara pengajian, namun area tersebut dibuka untuk umum dan acara tahun baru. Penulis berita tersebut merasa bahwa Ahok tidak adil dan melakukan suatu hal yang rasisme terhadap masyarakat Muslim. Setelah mendapat berita ini akan dilihat reaksi narasumber dan bagaimana pendapat mereka terhadap berita tersebut. Dapat dilihat juga apakah mereka mempercayai berita tersebut dan apakah sumber berita tersebut percaya atau tidak.
Hasil dari wawancara menunjukkan bahwa para narasumber telah beranggapan berita tersebut tidak dapat dipercaya dan tidak logis dengan tidak adanya pembuktian pada berita. Satu narasumber berkomentar bahwa hal berita seperti ini bisa menjadi suatu provokasi permasalahan kepada masyarakat yang bisa menjadi permasalahan atas pandangannya terhadap Ahok. Adapula narasumber yang beranggapan bahwa fanatik Islam memang sensitif terhadap kebijakan Ahok sendiri.Terlebih lagi ada yang beranggapan bahwa perkataan Ahok tidak konsisten dan ada satu narasumber yang tidak berkomentar apapun.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa siswa SMA muslim sudah lebih selektif dalam mempercayai berita dimana pandangan dan jawaban mereka lebih dipengaruhi oleh pengetahuan mereka tentang politik dibandingkan lingkungan mereka sendiri. Pluralisme pun sudah menyebar di kalangan siswa SMA Muslim dimana para siswa SMA muslim masih cenderung memilih Ahok pada pilkada 2017 daripada pesaing-pesaingnya.
3.2 Saran
Saran yang dapat diberikan penulis adalah sebagai berikut :
3.2.1 Siswa SMA menjadi lebih aktif dalam membaca dan mengikuti perkembangan berita DKI Jakarta.
3.2.2 Pluralitas yang telah menyebar di kalangan siswa SMA tetap dipertahankan.
3.2.3 Siswa SMA lebih selektif dalam memilih dan mempercayai berita-berita yang terdapat pada media online.
DAFTAR PUSTAKA
Burhanddin. 2015. “Kampanye Pilkada di Media Online Oleh Achmad Fachrudin”. http://www.bawaslu-dki.go.id/13/10/2015/kampanye-pilkada-di-media-sosial/ diunduh pada 8 Maret 2015, pukul 13.17 WIB
Tea, Romel. 2014. “Media Online: Pengertian dan Karakteristik”. http://www.romelteamedia.com/2014/04/media-online-pengertian-dan.html diunduh pada 8 Maret 2015, pukul 13.05 WIB
“Kemunafikan Ahok Terbongkar, Monas Dijadikan Tempat Perayaan Pergantian Tahun Baru 2016”, https://www.intelijen.co.id/kemunafikan-ahok-terbongkar-monas-dijadikan-tempat-perayaan-pergantian-tahun-baru-2016/, diakses 25 Januari 2016, pukul 21.38 WIB
“KORBAN Arogansi AHOK Semua Muslimah Berjilbab, Apa Kebetulan Semata?”, http://www.portalpiyungan.com/2016/01/korban-arogansi-ahok-semua-muslimah.html, diakses pada 25 Januari 2016, pukul 21.33 WIB
LAMPIRAN
BERITA 1
KORBAN Arogansi AHOK Semua Muslimah Berjilbab, Apa Kebetulan Semata?
"KORBAN semua Muslimah berjilbab, Apakah ini suatu kebetulan semata?"
Demikian pertanyaan yang disampaikan Mustofa B. Nahrawardaya, tokoh muda Muhammadiah dan Koordinator ICAF (Indonesia Crime Analyst Forum), di wall facebooknya, Jumat (8/1/2016).
Setidaknya, Mustofa B. Nahrawardaya menyebut ada tiga korban amarah, makian, tudingan dan pemecatan yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang kesemuanya muslimah berjilbab.
(1) Eva, guru honorer dibentak Ahok sampai pingsan
Eva mengadu ke Ahok supaya hak menjadi PNS diberikan karena sudah 10 tahun mengabdi. Namun Ahok malah meluapkan amarah hingga Eva menangis kencang hingga pingsan.
"Saya kaget saja. Enggak usah marah-marah. Ngomong aja baik-baik," kata Eva sambil menangis begitu sadar kepada awak media. (Islampos)
(2) Retno Listyarti, Kepsek SMAN 3 DKI Jakarta, dipecat Ahok
Gara-gara Retno Listyarti membeberkan kecurangan yang terjadi saat UN di acara talk show sebuah stasiun televisi swasta. Gubernur Ahok marah dan memecatnya dari jabatan Kepala Sekolah.
(3) Yusri Isnaeni, Ibu muda asal Koja, Jakarta Utara, diteriaki dan dituding maling oleh Ahok
Atas penghinaan dan tuduhan keji ini, Yusri Isnaeni melaporkan Ahok ke Polda Metro Jaya.
Kasusnya sudah diselidiki oleh pihak Polda Metro Jaya.
Pada Selasa (5/1/2016) lalu, ibu Yusri sudah dimintai keterangan oleh Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya
Kuasa Hukumnya, Feldy Taha, mengatakan, ada 18 pertanyaan dari penyidik untuk kliennya.
"Dalam hal ini, progress terbarunya menurut penyidik kasus ini sudah memenuhi unsur pidana. Buktinya cukup," kata Feldy kepada wartawan di Polda Metro Jaya.
"Kemudian, tadi, penyidik bilang akan segera memanggil bapak Ahok. Sebab ini sudah ada bukti ada tindak pidana yang dilakukan saudara Ahok," ucap Feldy.
Feldy menambahkan, bukti-bukti pernyataan Ahok itu sudah memenuhi unsur 310 dan 311. Unsurnya, yakni ahok menyebut Yusri seorang maling.
"Padahal ketentuannya yang mengatakan maling harus ada unsur pembuktian."
"Jangan menyampaikan itu ke publik bahwa anda adalah maling. Bukti kan ada dua, yaitu keterangan dari pelapor dan juga dari media, tadi polisi juga sudah mengetahui dan memantau permasalahan itu," kata Feldy.
Dari tiga kasus ini semua KORBAN arogansi dan angkara murka Ahok semuanya muslimah berjilbab. Akankah AHOK juga akan TERJUNGKAL oleh Muslimah berjilbab?
(portalpiyungan.com)
BERITA 2
Kemunafikan Ahok Terbongkar, Monas Dijadikan Tempat Perayaan Pergantian Tahun Baru 2016
intelijen – Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tidak konsisten dalam melarang Monas dijadikan tempat untuk acara. Buktinya Monas masih dijadikan untuk perayaan Tahun Baru 2016.
Demikian dikatakan pengamat politik Zainal Abidin kepada intelijen, Sabtu (2/1). “Kalau mau konsisten pintu masuk Monas ditutup. Monas disterilkan biar orang tidak masuk ke area Monas saat pergantian tahun,” ungkap Zainal.
Kata Zainal, sikap yang ditujukan Ahok itu bisa memunculkan perlawanan dari kelompok Islam karena mantan Bupati Belitung Timur itu melarang Monas untuk acara penganjian. “Ahok melarang pengajian di Monas, tetapi faktanya Monas dibiarkan untuk acara pergantian akhir tahun dan sampahnya banyak,” ungkap Zainal.
Zainal memperkirakan, umat Islam di Jakarta tidak akan memilih Ahok di Pilkada 2017. “Umat Islam sudah marah ke Ahok. DPRD DKI Jakarta tidak berdaya menghadapi Ahok, maka salah satu caranya menghukum Ahok di Pilkada 2017 dengan tidak memilih Ahok,” pungkas Zainal.
Warga Ibukota dan sekitarnya merayakan malam pergantian tahun baru di sejumlah titik lokasi yang salah satunya area Monas. Namun, selesai perayaan ada kebiasaan buruk yang belum bisa dihilangkan yaitu buang sampah sembarang tempat.
Ratusan kembang api menandai perayaan pergantian malam tahun baru di Monas dilakukan jelang tengah malam. Hampir 40 menit, warga berlomba-lomba menembakkan petasan dan kembang apinya ke atas langit tugu Monas.
Imbasnya, sampah dari petasan, kembang api ini berserakan di mana-mana. Tak hanya petasan, sampah dari hasil makanan, minuman sampai sampah non organik juga terdapat di berbagai titik area Monas.
Red
[1] Romel Tea, “Media Online : Pengertian dan Karakteristik”, http://www.romelteamedia.com/2014/04/media-online-pengertian-dan.html, diakses 8 Maret 2016, pukul 13.05 WIB
[2] “KORBAN Arogansi AHOK Semua Muslimah Berjilbab, Apa Kebetulan Semata?”, http://www.portalpiyungan.com/2016/01/korban-arogansi-ahok-semua-muslimah.html, diakses pada 25 Januari 2016, pukul 21.33 WIB
[3] Burhanuddin. “Kampanye Pilkada di Media Sosial Oleh Achmad Fachrudin”, http://www.bawaslu-dki.go.id/13/10/2015/kampanye-pilkada-di-media-sosial/, diakses pada 8 Maret 2016, pukul 13.17 WIB
[4] “KORBAN Arogansi AHOK Semua Muslimah Berjilbab, Apa Kebetulan Semata?”, http://www.portalpiyungan.com/2016/01/korban-arogansi-ahok-semua-muslimah.html, diakses pada 25 Januari 2016, pukul 21.33 WIB
[5] “Kemunafikan Ahok Terbongkar, Monas Dijadikan Tempat Perayaan Pergantian Tahun Baru 2016”, https://www.intelijen.co.id/kemunafikan-ahok-terbongkar-monas-dijadikan-tempat-perayaan-pergantian-tahun-baru-2016/, diakses 25 Januari 2016, pukul 21.38 WIB
No comments:
Post a Comment